IMPIAN SEORANG GADIS KECIL
Namaku adalah Weny. Aku hidup di sebuah desa
yang sangat terpencil dan juga kumuh. Aku tinggal di sebuah rumah yang
sederhana bersama kedua orang tuaku dan kakakku. Orang tuaku bekerja di ladang
setiap harinya. Mereka berjuang dengan
sekuat tenaga untuk mencukupi kehidupan keluarga kami. Mereka tidak pernah
mengeluh atau pun jerah, hanya ada semangat dan senyum yang ada dalam dirinya.
Kakakku namanya Udin, dia berusia 15 tahun. Kak Udin tidak bisa melanjutkan
sekolah karena biaya hidup keluarga kami yang minim, kakak bekerja di pabrik
pagi hari dan pulang sore hari. Kakak selalu berangkat dengan senyum dan
semangat sama seperti ayah dan ibu. Sebelum berangkat kerja, kakak selalu
merawat kambing dan aku juga membantunya dengan senang hati. Kambing itu adalah
peninggalan dari almarhum kakekku. Kakek sangat suka menggembala kambing, aku
dan kakak juga sering membantunya. Aku duduk di bangku kelas 4 di MI
Hidayatullah bersama dengan sahabatku yang bernama Lina dan Rio. Kami selalu
bersama, baik itu di sekolah maupun di rumah.
Embeeek!!! Embeeeek!!! Suara kambing terdengar
nyaring di telingaku. Aku bergegas menuju ke arah suara kambing. Ternyata kakak
sudah lebih dulu datang memberi makan kambing, sedangkan aku masih berjalan
dengan sedikit sempoyongan sambil mengusap mata yang masih mengantuk. Melihat
kelakuanku, kakak hanya melihat dan tersenyum. Aku jengkel karena kakak sudah
menertawakanku, tapi semua itu tidak berlangsung lama karena kakak selalu saja
bisa membuatku tertawa. Ayah dan ibu melihat kelakuan kami sambil tersenyum.
Selesai merawat kambing, aku dan kakak bergegas kembali ke rumah untuk bersiap-siap.
Sebelum berangkat, kami selalu sarapan bersama.
Saat perpisahan sekolah, kelasku mendapatkan
giliran untuk menampilkan sebuah drama. Dalam drama tersebut, aku berperan
menjadi seorang polisi yang ditugaskan untuk menangkap penjahat. Sejak saat
itu, aku sangat ingin menjadi seorang polisi wanita, dan aku terus berjuang
demi mencapai impianku itu. Aku tidak peduli apa kata orang, aku hanya ingin
membuat kedua orang tuaku bangga. Hari demi hari terus berjalan, minggu demi
minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun sampai akhirnya aku menginjak usia
18 tahun. Saat ini aku duduk di bangku kelas 3 di MAN 2 Gresik. Di sini, banyak
sekali prestasi yang aku dapatkan sehingga aku bisa mendapatkan beasiswa dan
tidak membayar apapun. Kakakku sudah menikah 3 bulan yang lalu. Meskipun sudah
menikah, tapi kakak selalu berkunjung ke rumah bersama istrinya yang bernama
kak Nanda. Kak Nanda sangat cantik, sederhana dan juga baik hati. Mereka selalu
membawa oleh-oleh setiap berkunjung.
Setelah lulus SMA, aku memberanikan diri untuk
melanjutkan sekolah kepolisian melalui organisasi pramukaku di Polsek Cerme.
Awalnya kedua orang tuaku tidak memberi izin, karena mereka merasa takut dan
khawatir padaku. Kemudian kak Udin dan kak Nanda meyakinkan mereka, karena kak
Udin dan istrinya yakin bahwa aku pasti bisa melakukan yang terbaik. Dan
akhirnya ayah dan ibu mengizinkanku untuk melanjutkan sekolah kepolisian, aku
sangat senang sekali, akhirnya aku bisa mencapai impianku.
Saat pengumuman tiba, hatiku terasa sakit
sekaligus kecewa, dan juga marah. Aku tidak diterima di sekolah kepolisian itu.
Ayah dan ibu, dan juga kak Udin serta istrinya berusaha menghiburku. Ayah
berkata “Sudah nak, jangan bersedih. Mungkin Allah sedang menguji kesabaranmu.”
“Iya nak, benar yang ayahmu katakan. Sudah jangan bersedih lagi.” ucap ibu.
Setelah mendengar kata ayah dan ibu, aku sadar mungkin perjuanganku masih
kurang. “Iya dek, tahun depan kan kamu bisa mendaftarkan diri lagi” ucap kak
Udin. Aku sudah tidak sedih lagi karena keluargakulah yang menjadi
penyemangatku.
Selama menunggu hari itu tiba, aku mengisi
hari-hariku membantu ayah dan ibu di ladang. Ternyata bekerja di ladang tidak
semudah yang ku pikirkan. Selain membantu di ladang, aku juga menggantikan kak
Udin merawat kambing. Di malam hari aku membaca buku yang diberikan kak Udin.
Dan akhirnya satu tahun pun berlalu. Aku mendaftarkan diri lagi untuk masuk ke
sekolah kepolisian tanpa ragu dan takut lagi. Aku juga tidak lupa berdoa agar
bisa diterima dan bisa membahagiakan orang tuaku.
Waktu yang ku tunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
Saat pengumuman tiba, aku merasa deg degan dan takut serta ragu jika nanti
perjuanganku sia-sia, aku terus berdoa kepada Allah agar diterima. Setelah
membaca pengumuman, aku melihat namaku tercantum di dalamnya dalam urutan
pertama dari 10 peserta yang diterima dari daerahku. Tak terasa air mataku
menetes dan aku pun langsung melakukan sujud syukur kepada Allah karena telah mengabulkan
keinginanku. Aku bergegas pulang menemui ayah dan ibu untuk memberitahukan
kabar gembira ini. Sesampainya di rumah, aku mencari ke ladang dan segera
memeluk mereka. Setelah mendengar kabar gembira tersebut, ayah dan ibu membuat
syukuran.
“Terima kasih ya Allah, Engkau sudah
mengabulkan keinginan hambamu ini.” Dan juga berkat doa dan restu dari orang
tuaku, aku akhirnya bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan
mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar