Kamis, 12 Januari 2017

Cerpen "Impian Seorang Gadis Kecil"



IMPIAN SEORANG GADIS KECIL

Namaku adalah Weny. Aku hidup di sebuah desa yang sangat terpencil dan juga kumuh. Aku tinggal di sebuah rumah yang sederhana bersama kedua orang tuaku dan kakakku. Orang tuaku bekerja di ladang setiap harinya.  Mereka berjuang dengan sekuat tenaga untuk mencukupi kehidupan keluarga kami. Mereka tidak pernah mengeluh atau pun jerah, hanya ada semangat dan senyum yang ada dalam dirinya. Kakakku namanya Udin, dia berusia 15 tahun. Kak Udin tidak bisa melanjutkan sekolah karena biaya hidup keluarga kami yang minim, kakak bekerja di pabrik pagi hari dan pulang sore hari. Kakak selalu berangkat dengan senyum dan semangat sama seperti ayah dan ibu. Sebelum berangkat kerja, kakak selalu merawat kambing dan aku juga membantunya dengan senang hati. Kambing itu adalah peninggalan dari almarhum kakekku. Kakek sangat suka menggembala kambing, aku dan kakak juga sering membantunya. Aku duduk di bangku kelas 4 di MI Hidayatullah bersama dengan sahabatku yang bernama Lina dan Rio. Kami selalu bersama, baik itu di sekolah maupun di rumah.
Embeeek!!! Embeeeek!!! Suara kambing terdengar nyaring di telingaku. Aku bergegas menuju ke arah suara kambing. Ternyata kakak sudah lebih dulu datang memberi makan kambing, sedangkan aku masih berjalan dengan sedikit sempoyongan sambil mengusap mata yang masih mengantuk. Melihat kelakuanku, kakak hanya melihat dan tersenyum. Aku jengkel karena kakak sudah menertawakanku, tapi semua itu tidak berlangsung lama karena kakak selalu saja bisa membuatku tertawa. Ayah dan ibu melihat kelakuan kami sambil tersenyum. Selesai merawat kambing, aku dan kakak bergegas kembali ke rumah untuk bersiap-siap. Sebelum berangkat, kami selalu sarapan bersama.
Saat perpisahan sekolah, kelasku mendapatkan giliran untuk menampilkan sebuah drama. Dalam drama tersebut, aku berperan menjadi seorang polisi yang ditugaskan untuk menangkap penjahat. Sejak saat itu, aku sangat ingin menjadi seorang polisi wanita, dan aku terus berjuang demi mencapai impianku itu. Aku tidak peduli apa kata orang, aku hanya ingin membuat kedua orang tuaku bangga. Hari demi hari terus berjalan, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun sampai akhirnya aku menginjak usia 18 tahun. Saat ini aku duduk di bangku kelas 3 di MAN 2 Gresik. Di sini, banyak sekali prestasi yang aku dapatkan sehingga aku bisa mendapatkan beasiswa dan tidak membayar apapun. Kakakku sudah menikah 3 bulan yang lalu. Meskipun sudah menikah, tapi kakak selalu berkunjung ke rumah bersama istrinya yang bernama kak Nanda. Kak Nanda sangat cantik, sederhana dan juga baik hati. Mereka selalu membawa oleh-oleh setiap berkunjung.
Setelah lulus SMA, aku memberanikan diri untuk melanjutkan sekolah kepolisian melalui organisasi pramukaku di Polsek Cerme. Awalnya kedua orang tuaku tidak memberi izin, karena mereka merasa takut dan khawatir padaku. Kemudian kak Udin dan kak Nanda meyakinkan mereka, karena kak Udin dan istrinya yakin bahwa aku pasti bisa melakukan yang terbaik. Dan akhirnya ayah dan ibu mengizinkanku untuk melanjutkan sekolah kepolisian, aku sangat senang sekali, akhirnya aku bisa mencapai impianku.
Saat pengumuman tiba, hatiku terasa sakit sekaligus kecewa, dan juga marah. Aku tidak diterima di sekolah kepolisian itu. Ayah dan ibu, dan juga kak Udin serta istrinya berusaha menghiburku. Ayah berkata “Sudah nak, jangan bersedih. Mungkin Allah sedang menguji kesabaranmu.” “Iya nak, benar yang ayahmu katakan. Sudah jangan bersedih lagi.” ucap ibu. Setelah mendengar kata ayah dan ibu, aku sadar mungkin perjuanganku masih kurang. “Iya dek, tahun depan kan kamu bisa mendaftarkan diri lagi” ucap kak Udin. Aku sudah tidak sedih lagi karena keluargakulah yang menjadi penyemangatku.
Selama menunggu hari itu tiba, aku mengisi hari-hariku membantu ayah dan ibu di ladang. Ternyata bekerja di ladang tidak semudah yang ku pikirkan. Selain membantu di ladang, aku juga menggantikan kak Udin merawat kambing. Di malam hari aku membaca buku yang diberikan kak Udin. Dan akhirnya satu tahun pun berlalu. Aku mendaftarkan diri lagi untuk masuk ke sekolah kepolisian tanpa ragu dan takut lagi. Aku juga tidak lupa berdoa agar bisa diterima dan bisa membahagiakan orang tuaku.
Waktu yang ku tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Saat pengumuman tiba, aku merasa deg degan dan takut serta ragu jika nanti perjuanganku sia-sia, aku terus berdoa kepada Allah agar diterima. Setelah membaca pengumuman, aku melihat namaku tercantum di dalamnya dalam urutan pertama dari 10 peserta yang diterima dari daerahku. Tak terasa air mataku menetes dan aku pun langsung melakukan sujud syukur kepada Allah karena telah mengabulkan keinginanku. Aku bergegas pulang menemui ayah dan ibu untuk memberitahukan kabar gembira ini. Sesampainya di rumah, aku mencari ke ladang dan segera memeluk mereka. Setelah mendengar kabar gembira tersebut, ayah dan ibu membuat syukuran.
“Terima kasih ya Allah, Engkau sudah mengabulkan keinginan hambamu ini.” Dan juga berkat doa dan restu dari orang tuaku, aku akhirnya bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar