Kamis, 12 Januari 2017

Cerpen "Malaikat-Malaikatku"



Malaikat-Malaikatku

Namaku adalah Ersi, tapi teman-temanku memanggilku dengan sebutan Ecik. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Dan aku adalah satu-satunya wanita di keluargaku. Papa dan mamaku sudah tidak bersamaku, sejak aku berumur 9 tahun. Aku harus mengurus adik-adikku, karena papa dan mamaku sudah meninggal. Mama meninggal setelah melahirkan Erjel, adikku yang terakhir, dan 3 bulan kemudian disusul oleh papa yang meninggal karena serangan jantung.
Aku dan kedua adikku dititipkan di rumah saudaranya papa. Dan alhamdulillah kami masih bisa sekolah.Tapi lambat laun, bibiku tidak bisa membiayai sekolah kami dan akhirnya kami dititipkan di sebuah lebaga yayasan yang berada tidak jauh dari rumah bibiku. Dan pada saat itu aku berusia 12 tahun.
Kami diantar bibiku ke lembaga yayasan untuk yang pertama kalinya. Pihak yayasan menyambutku dengan tangan terbuka dan penuh  kehangatan.
Bibi     :   “Pak, Bu, ini saya titipkan ketiga keponakan saya di sini.”
Bapak pengasuh :   “Baik bu. Kami merasa senang atas kedatangan ketiga ponakan anda. Pintu kami selalu terbuka bagi mereka-mereka yang membutuhkan kasih sayang.”
Ibu pengasuh   :   “Iya bu. Karena Allah SWT telah memerintahkan kepada kami agar merawat anak- anak yang kurang beruntung, seperti anak yatim, anak piatu, anak yatim piatu dan dhuafa.”
Bibi     :   “Subhanallah, hati anda sungguh mulia. Dan saya akan percayakan ketiga keponakan saya kepada anda. Mereka sudah ditinggal kedua orang tuanya ketika mereka masih kecil.”
Bapak pengasuh :   “Kami akan merawat mereka dengan baik bu, seperti anak-anak yang lainnya.”
Bibi     :   “Terima kasih pak, bu, karena sudah menerima ketiga keponakan saya.”
Ibu pengasuh   :   “Iya bu, sama-sama. Ini sudah menjadi kewajiban kami.”
Bibi     :   “Ersi, Ervan, Erjel, di sinilah kalian akan tinggal. Bibi harap kalian tidak nakal dan patuh. Ersi, jaga kedua adikmu dengan baik.”
Ersi      :   “Iya te. Ecik akan menjaga mereka dengan baik.”
Bibi     :   “Baik, bibi akan pulang. Pak, bu, saya pamit pulang karena saya kira urusan disini sudah selesai. Ini adalah berkas-berkasnya.”
Bapak pengasuh :   “Iyah bu.”
Bibi beranjak pulang meninggalkan kami, kedua adikku masih merengek. Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti, tapi aku berharap bisa memiliki banyak teman dan bahagia disini.
Ibu pengasuh :   “Ayo Ersi, Ervan, Erjel, ibu akan antar kalian ke asrama. Nanti kalian akan bertemu dengan teman-teman kalian di sana. Jangan takut ya sayang.”
Kami diantar oleh ibu pengasuh ke asrama, tempat kami tinggal. Aku sedikit merasa takut, takut jika mereka tidak mau menerima kami dan tidak mau menjadi teman kami. Aku berjalan di samping ibu pengasuh dengan menggandeng tangan adik-adikku. Beberapa lama kemudian kami sampai di asrama. Suasananya masih sepi karena sekarang adalah jam sekolah. Aku sedikit merasa lega.
Ibu pengasuh   :   “Nah ini adalah kamar Erjel dan Ervan. Untuk Ersi adalah kamar yang itu. “ (sambil menunjuk ke sebuah kamar lainnya)
Erjel dan Ervan merengek ingin satu kamar denganku, tapi ibu pengasuh bilang agar mereka cepat beradaptasi dengan yang lain. Akupun membujuk kedua adikku dengan sebisaku dan akhirnya mereka memahami itu. Kemudian ibu pengasuh mengatarku ke sebuah kamar yang ditunjukknya tadi.
Ibu pengasuh   :   “Nah Ersi, ini adalah kamarmu, dan ibu akan kembali.”
Ersi      :   “Iya bu, terima kasih karena sudah mengantarku ke kamar.”
Ibu pengasuh   :   “Iya nak, sama-sama”
Aku lalu mencium tangan ibu pengasuh dan beliau pun beranjak pulang. Aku masih mengamati langkah sang ibu pengasuh sampai tak terlihat lagi. Kemudian aku masuk ke dalam kamar dengan melangkah pelan-pelan. Ketika pada langkah yang ke 5, kakiku berhenti, seakan-akan ada lem yang melekat di kakiku. Sungguh indah! Gumamku dalam hati. Kamar ini sungguh indah, seperti syurga. Penataan ruangnya sederhana tapi terlihat menarik. Ada 2 ranjang susun dan 4 almari kayu. Ada juga almari kaca yang isinya kitab, buku, dan Al-Quran. Subhanallah. Setelah puas mengamati keadaan kamar, aku pun langsung menata pakaianku ke dalam almari yang kosong dan pergi istirahat.
“Tok... tok... tok...” terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dan aku pun terbangun. Aku bergegas membuka pintu.
Ersi      :   (membuka pintu) “Maaf kak, tadi saya sedang istirahat jadi pintunya saya tutup karena saya takut ada pencuri yang masuk.” (sambil menunduk)
Ayu     :   “Tidak apa-apa dek, kakak mengerti kok. Kamu anak baru yah?”
Ersi      :   “Iya kak.”
Ayu     :   “Tidak usah takut dek, kita tidak sejahat yang kamu fikirkan kok.”
Atul     :  “Iya dek, karena kamu sudah bergabung di sini, berarti sekarang kita adalah keluarga. Benar kan kak Ay?”
Ayu     :   “Benar dek. Mari kita masuk ke dalam, nggak baik mengobrol di pintu.” (sambil tersenyum ramah)
Kami masuk ke dalam kamar dan duduk untuk melanjutkan obrolan kami.
Atul     :   “Pepatah mengatakan kalau tak kenal maka tak sayang. Nah sekarang saya akan bertanya namamu siapa?”
Ersi      :   “Ersi kak. Biasanya teman-temanku manggilnya Ecik kak.”
Ayu     :  “Baiklah, kalau gitu kami akan memanggilmu Ecik biar lebih akrab. Dengar-dengar kamu kesini sama kedua adikmu yah?”
Ersi      :   “Iyah kak. Aku punya 2 adik. Namanya Ervan sama Erjel. Mungkin sekarang mereka sedang tidur siang.”
Ayu     :    “Ya sudah tidak apa-apa. Oh ya, perkenalkan nama saya Ayu dan ini kak Atul. Kamu bisa memanggil saya kak Ay.” (berjabat tangan dengan Ersi)
Atul     :   “Oh ya Cik, di sini tidak hanya kita berdua, masih banyak anak lainnya.”
Ersi      :    “Iyah kak, kalau boleh tau ada siapa saja kak?”
Atul     :    “Ada kak Syafira, kak Liya, kak Ririn, kak Fitri, dan yang lainnya dek. Tidak mungkinlah kita menyebutkan satu demi satu. Bisa-bisa menghabiskan 2 jam dek.” (tertawa)
Kami tertawa bersama dan masih terus mengobrol sampai yang lainnya datang. Betapa hangatnya suasana ini. Aku bersyukur berada di tempat ini, karena aku bisa bertemu dengan malaikat-malaikatku. Terima kasih Tuhan. Kau telah ciptakan mereka untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar