Malaikat-Malaikatku
Namaku adalah Ersi,
tapi teman-temanku memanggilku dengan sebutan Ecik. Aku adalah anak pertama
dari 3 bersaudara. Dan aku adalah satu-satunya wanita di keluargaku. Papa dan
mamaku sudah tidak bersamaku, sejak aku berumur 9 tahun. Aku harus mengurus
adik-adikku, karena papa dan mamaku sudah meninggal. Mama meninggal setelah
melahirkan Erjel, adikku yang terakhir, dan 3 bulan kemudian disusul oleh papa
yang meninggal karena serangan jantung.
Aku dan kedua
adikku dititipkan di rumah saudaranya papa. Dan alhamdulillah kami masih bisa
sekolah.Tapi lambat laun, bibiku tidak bisa membiayai sekolah kami dan akhirnya
kami dititipkan di sebuah lebaga yayasan yang berada tidak jauh dari rumah
bibiku. Dan pada saat itu aku berusia 12 tahun.
Kami diantar bibiku
ke lembaga yayasan untuk yang pertama kalinya. Pihak yayasan menyambutku dengan
tangan terbuka dan penuh kehangatan.
Bibi : “Pak, Bu, ini saya
titipkan ketiga keponakan saya di sini.”
Bapak pengasuh : “Baik bu. Kami merasa senang atas kedatangan
ketiga ponakan anda. Pintu kami selalu terbuka bagi mereka-mereka yang
membutuhkan kasih sayang.”
Ibu pengasuh : “Iya
bu. Karena Allah SWT telah memerintahkan kepada kami agar merawat anak- anak
yang kurang beruntung, seperti anak yatim, anak piatu, anak yatim piatu dan
dhuafa.”
Bibi : “Subhanallah, hati
anda sungguh mulia. Dan saya akan percayakan ketiga keponakan saya kepada anda.
Mereka sudah ditinggal kedua orang tuanya ketika mereka masih kecil.”
Bapak pengasuh : “Kami akan merawat mereka dengan baik bu,
seperti anak-anak yang lainnya.”
Bibi : “Terima kasih pak, bu,
karena sudah menerima ketiga keponakan saya.”
Ibu pengasuh : “Iya
bu, sama-sama. Ini sudah menjadi kewajiban kami.”
Bibi : “Ersi, Ervan, Erjel,
di sinilah kalian akan tinggal. Bibi harap kalian tidak nakal dan patuh. Ersi,
jaga kedua adikmu dengan baik.”
Ersi : “Iya te. Ecik akan
menjaga mereka dengan baik.”
Bibi : “Baik, bibi akan
pulang. Pak, bu, saya pamit pulang karena saya kira urusan disini sudah selesai.
Ini adalah berkas-berkasnya.”
Bapak pengasuh : “Iyah bu.”
Bibi beranjak
pulang meninggalkan kami, kedua adikku masih merengek. Aku tidak tau apa yang
akan terjadi nanti, tapi aku berharap bisa memiliki banyak teman dan bahagia
disini.
Ibu pengasuh : “Ayo Ersi, Ervan, Erjel, ibu akan antar
kalian ke asrama. Nanti kalian akan bertemu dengan teman-teman kalian di sana.
Jangan takut ya sayang.”
Kami diantar oleh
ibu pengasuh ke asrama, tempat kami tinggal. Aku sedikit merasa takut, takut
jika mereka tidak mau menerima kami dan tidak mau menjadi teman kami. Aku
berjalan di samping ibu pengasuh dengan menggandeng tangan adik-adikku. Beberapa
lama kemudian kami sampai di asrama. Suasananya masih sepi karena sekarang
adalah jam sekolah. Aku sedikit merasa lega.
Ibu pengasuh : “Nah
ini adalah kamar Erjel dan Ervan. Untuk Ersi adalah kamar yang itu. “ (sambil
menunjuk ke sebuah kamar lainnya)
Erjel dan Ervan
merengek ingin satu kamar denganku, tapi ibu pengasuh bilang agar mereka cepat
beradaptasi dengan yang lain. Akupun membujuk kedua adikku dengan sebisaku dan
akhirnya mereka memahami itu. Kemudian ibu pengasuh mengatarku ke sebuah kamar
yang ditunjukknya tadi.
Ibu pengasuh : “Nah
Ersi, ini adalah kamarmu, dan ibu akan kembali.”
Ersi : “Iya bu, terima kasih
karena sudah mengantarku ke kamar.”
Ibu pengasuh : “Iya
nak, sama-sama”
Aku lalu mencium
tangan ibu pengasuh dan beliau pun beranjak pulang. Aku masih mengamati langkah
sang ibu pengasuh sampai tak terlihat lagi. Kemudian aku masuk ke dalam kamar
dengan melangkah pelan-pelan. Ketika pada langkah yang ke 5, kakiku berhenti,
seakan-akan ada lem yang melekat di kakiku. Sungguh indah! Gumamku dalam hati.
Kamar ini sungguh indah, seperti syurga. Penataan ruangnya sederhana tapi
terlihat menarik. Ada 2 ranjang susun dan 4 almari kayu. Ada juga almari kaca
yang isinya kitab, buku, dan Al-Quran. Subhanallah. Setelah puas mengamati
keadaan kamar, aku pun langsung menata pakaianku ke dalam almari yang kosong
dan pergi istirahat.
“Tok... tok... tok...”
terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dan aku pun terbangun. Aku bergegas
membuka pintu.
Ersi : (membuka pintu) “Maaf
kak, tadi saya sedang istirahat jadi pintunya saya tutup karena saya takut ada
pencuri yang masuk.” (sambil menunduk)
Ayu : “Tidak apa-apa dek,
kakak mengerti kok. Kamu anak baru yah?”
Ersi : “Iya kak.”
Ayu : “Tidak usah takut dek,
kita tidak sejahat yang kamu fikirkan kok.”
Atul : “Iya dek, karena kamu
sudah bergabung di sini, berarti sekarang kita adalah keluarga. Benar kan kak
Ay?”
Ayu : “Benar dek. Mari kita
masuk ke dalam, nggak baik mengobrol di pintu.” (sambil tersenyum ramah)
Kami masuk ke dalam kamar dan
duduk untuk melanjutkan obrolan kami.
Atul : “Pepatah mengatakan
kalau tak kenal maka tak sayang. Nah sekarang saya akan bertanya namamu siapa?”
Ersi : “Ersi kak. Biasanya
teman-temanku manggilnya Ecik kak.”
Ayu : “Baiklah, kalau gitu
kami akan memanggilmu Ecik biar lebih akrab. Dengar-dengar kamu kesini sama
kedua adikmu yah?”
Ersi : “Iyah kak. Aku punya
2 adik. Namanya Ervan sama Erjel. Mungkin sekarang mereka sedang tidur siang.”
Ayu : “Ya sudah tidak
apa-apa. Oh ya, perkenalkan nama saya Ayu dan ini kak Atul. Kamu bisa memanggil
saya kak Ay.” (berjabat tangan dengan Ersi)
Atul : “Oh ya Cik, di sini
tidak hanya kita berdua, masih banyak anak lainnya.”
Ersi : “Iyah kak, kalau boleh tau ada siapa saja kak?”
Ersi : “Iyah kak, kalau boleh tau ada siapa saja kak?”
Atul : “Ada kak Syafira, kak
Liya, kak Ririn, kak Fitri, dan yang lainnya dek. Tidak mungkinlah kita
menyebutkan satu demi satu. Bisa-bisa menghabiskan 2 jam dek.” (tertawa)
Kami tertawa
bersama dan masih terus mengobrol sampai yang lainnya datang. Betapa hangatnya
suasana ini. Aku bersyukur berada di tempat ini, karena aku bisa bertemu dengan
malaikat-malaikatku. Terima kasih Tuhan. Kau telah ciptakan mereka untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar